Minified!

Minified!
prepare to be... MINIfied!

Wednesday, September 19, 2007

Grafik dan Data untuk Artikel di bawah




Seperti yang dapat dilihat, berdasarkan data di atas, Mini menjalani sebagian besar hidupnya DIBAWAH harga jual aslinya pada tahun 1959 (setelah diadakan perhitungan kenaikan living cost dll.) Meskipun harganya menaik, tapi kecenderungannya adalah Mini dijual dengan harga yang lebih rendah dibandingkan atas harga aslinya. Apabila pada awalnya BMC menderita kerugian sebesar £30 setiap mobilnya, dapat dihitung berapa besar kerugian yang ditanggung oleh BMC kemudian Leyland dan Austin-Rover selanjutnya. Namun, perhitungan tersebut adalah untuk versi Mini yang entry-level, artinya Mini 850 basic, Mini City E (1980an-1993), dan Mini Sprite (1993-1996). Memang BMC dapat mengeruk keuntungan dari hasil penjualan Mini 1000 (1967-1980an), Mini Mayfair (1980an-1996), versi Cooper dan Cooper S, Riley Elf dan Wolseley Hornet dan Special Edition di tahun 80an-90an.



Tuesday, September 18, 2007

Mini: Penyebab Kehancuran Industri Otomotif Inggris (?)


Tidak diragukan lagi, pada saat peluncurannya pada tahun 1959, Austin Se7en dan Morris Mini-Minor (yang kemudian dikenal sebagai Mini) merupakan salah satu mobil yang paling banyak menundang decak kagum para pengamat otomotif. Fitur-fiturnya yang kala itu langka (Front Wheel Drive, Rubber Spring Suspension, Miniature size) dengan performa luar biasa untuk mobil seukurannya memang sukar ditandingi. Namun, sekian puluh tahun kemudian, muncul pendapat bahwa kemunculan Mini tersebut membawa berkah sekaligus bencana bagi industri otomotif Inggris, yaitu ia menjadi mobil terlaris sepanjang sejarah otomotif Inggris Raya, dan juga menjadi penyebab kehancuran industri tersebut.

Bagaimana mungkin mobil terlaris menjadi penyebab kebangkrutan pabrikan mobil Inggris? Jawabannya ternyata sangat sederhana: underpricing… Alec Issigonis – dan juga BMC – merencanakan Mini sebagai mobil murah meriah bagi orang-orang yang ingin merasakan nikmatnya bermobil dengan biaya rendah. Untuk mendongkrak penjualan, maka Mini dibanderol dengan harga fantastis £496,95! Hanya sedikit di atas harga Ford Popular yang sudah menua. Para akuntan di perusahaan saingan BMC, Ford, menganalisa sebuah Mini dan menghitung biaya produksi vs. keuntungan yang akan didapat. Hasilnya mengejutkan. Dengan harga demikian, BMC sebenarnya meraup kerugian sebesar £30 dari setiap mobil yang terjual! Dan lebih mengejutkan lagi, berdasarkan analisa harga dari tahun 1959 hingga 1993, Mini ternyata dijual DIBAWAH harga jual aslinya pada tahun 1959 (setelah menghitung perbedaan biaya hidup). Jadi, dapat dihitung selama berproduksi setelah 39 tahun, berapa kerugian yang harus ditanggung BMC (kemudian BLMC, Leyland, Austin Rover, Rover, MG-Rover) selama itu. Itu pun dengan perhitungan penjualan seharga ekuivalen harga jual awal.

Tapi, tampaknya tidak adil juga untuk menuduh Mini sebagai satu-satunya penyebab kehancuran industri otomotif Inggris. British Leyland Motor Corporation pada suatu masa pernah menjadi produsen otomotif terbesar ke-5 di dunia. Tapi perusahaan hasil merger antara BMC (yang mana pada dasarnya merupakan hasil merger pula antara Austin dengan Morris) dengan Leyland tersebut pada dasarnya memang suatu perusahaan yang tengah “sakit”. Perusahaan dijalankan dengan tidak efisien. Kerugian menumpuk akibat salah strategi penjualan. Seringnya mogok pekerja.

Rencana untuk menggantikan Mini yang memang sudah menua dengan model yang lebih besar dan lebih mahal memang telah terbersit semenjak tahun 1969 dari prototipe 9X hasil Issigonis. Pada tahun 1970-an, rencana mengganti Mini tersebut kian gencar dihembuskan manajemen Leyland/BLMC namun tidak pernah terjadi. Kenapa? Hal ini dikarenakan Mini merupakan salah satu mobil terlaris dalam sejarah perusahaan itu. Malahan pada tahun 1971, produksi Mini mencapai puncaknya dengan menghasilkan 318.475 unit mobil. Tidak mungkin Leyland menghentikan produksi mobil yang sedang laris dan penuh permintaan. Sialnya, Mini masih dijual dibawah harga yang menghasilkan keuntungan. Maka dari itu, kerugian menumpuk, membawa dampak tidak tersedianya dana untuk membiayai riset dan desain mobil baru.

Setelah Metro diluncurkan pada tahun 1980, Mini diharapkan untuk perlahan-lahan tenggelam. Namun permintaan untuk mobil kecil tersebut malahan tetap ada. Tapi selera pasar mulai berubah. Mereka tidak lagi melihat Mini sebagai mobil rakyat yang murah untuk dibeli, tapi lebih kepada simbol atas status diri mereka di masyarakat. Karena itu, model Mayfair yang lebih mewah cenderung untuk lebih laku dibandingkan model City yang lebih mendasar. Hal tersebut juga yang mendorong diciptakannya Special Edition yang melimpah antara tahun 1980 hingga 1996 dengan biaya produksi yang relatif sama, tapi mobil dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi. Pada periode 80-an ini sebetulnya Mini mulai meraup keuntungan yang lumayan, dan mulai “sehat” secara keuangan. Namun semuanya telah terlambat. Kerugian telah menumpuk.

Industri otomotif Inggris sendiri menemui akhir yang memilukan. Setelah pada tahun 1994 dijual kepada BMW, pada tahun 1997 BMW sendiri meninggalkan Austin-Rover sambil membawa hak nama Mini dan setelah menjual nama Land Rover kepada Ford. Austin-Rover kemudian dikelola oleh sebuah konsorsium bernama Phoenix dan nama perusahaan tersebut berubah menjadi MG-Rover Group, dengan hak nama MG dan Rover dan hak eksklusif menjual Mini klasik sampai persediaan body habis dan BMW meluncurkan Mini baru. Tapi Phoenix juga tidak kuat menanggung kerugian akibat mismanagement yang terjadi di MG-Rover dan berniat menjualnya kepada perusahaan asal Cina, Nanjing Corp. Perundingan mandek, dan MG-Rover dinyatakan bangkrut. Hak nama dan merek Rover serta MG dibeli oleh perusahaan Cina lainnya, SAIC, yang memulai produksi mobil-mobil merek Rover dan MG dengan basis pabrik di Cina. Kini, perusahaan otomotif Inggris tinggallah nama belaka. British Leyland Motor Company yang dulu menangani merek-merek Austin, Morris, Jaguar, Land Rover, Triumph, Rover, MG, Riley, dan Wolseley kini tidak ada lagi. Jaguar sudah berpindah tangan kepada Daimler-Chrysler. Austin dan Morris sudah dikubur sejak jaman Austin-Rover tahun 1980-an dulu. Land Rover di miliki Ford. MG dan Rover dimiliki oleh SAIC dari Cina. Mini dikuasai BMW.

Pada akhirnya, kesalahan terbesar memang terletak pada kesalahan strategi penjualan yang diterapkan oleh perusahaan dan juga mismanagement yang parah. Namun, tampaknya tidak dapat dipungkiri kalau Mini sedikit mempunyai andil dalam memperparah situasi tersebut. Tapi, jangan takut, meskipun demikian Mini tetap merupakan sebuah hasil desain yang hebat dan tidak habis dimakan masa…