Minified!

Minified!
prepare to be... MINIfied!

Friday, August 31, 2007

Mobil Tua Dilarang Jalan!

Dalam artikel ini, saya ingin sedikit berpolitik dalam mengajukan keluh kesah terhadap kebijakan pemerintah, baik Pemda DKI Jakarta maupun Pemerintah Republik Indonesia. Seperti yang telah kita ketahui, telah ada rencana mengenai pembatasan pemberlakuan STNK bagi mobil-mobil “tua”. Sederhananya, mobil-mobil tersebut tidak lagi diperbolehkan memperpanjang STNK-nya dengan harapan agar mobil-mobil tersebut tidak lagi berkeliaran di jalan raya Jakarta dan mengurangi polusi udara dan kemacetan. Ide yang bagus? Memang… Saya pribadi mendukung segala usaha pemerintah untuk dapat mengurangi kemacetan dan polusi udara di Jakarta, namun ada beberapa hal yang cukup mengganggu dalam hal ini.

Pertama-tama, definisi “mobil tua” tersebut. Seperti biasanya, pemerintah kita, pembuat kebijakan, memang seyogianya orang-orang yang malas dalam menyusun peraturan. Mobil Tua diklasifikasikan secara generik tanpa membuat suatu definisi yang jelas tentang kelas-kelas “ketuaan” tersebut. Hal ini yang diprotes habis-habisan oleh PPMKI (Perkumpulan Penggemar Mobil Kuno Indonesia) dan juga oleh Jakarta Morris Club. Definisi mobil tua ini seharusnya dirinci dengan jelas sehingga tidak menimbulkan ambiguitas dan multi-persepsi (yang memang tidak pernah dilakukan pemerintah untuk SEMUA peraturan. Silakan periksa sendiri peraturan perundang-undangan MANAPUN, tidak akan ada kejelasan dan definisi yang jelas dan rinci untuk semua permasalahan. Ini juga yang membuat polisi dapat dengan sewenang-wenang menahan orang karena peraturan yang ambigu dan multi-tafsir). Ini langkah pertama yang baik, namun dengan segala hormat kepada Roy Suryo dan para petinggi PPMKI lainnya, hal ini tidaklah cukup.

Pemerintah kemudian menjalankan rencananya yang kedua, pengujian uji emisi wajib yang harus memenuhi standar. Lagi-lagi, kemalasan pemerintah terjadi. Standar yang disebut-sebut itu juga sama saja seperti melihat lukisan ekspresionisme oleh pengamat amatir; tidak jelas! Semua jenis mobil diberlakukan standar sama, dengan sendirinya kebanyakan mobil tua (yang memang tidak dibuat sesuai standar tersebut) pastinya tidak mampu lolos. Kita seharusnya menolak perlakuan tersebut terhadap mobil-mobil yang masuk dalam kategori klasik (yang sampai sekarang belum ada kategorinya juga, sehingga timbul pertanyaan seberapa efektifnyakah protes kita tersebut?) dan menuntut pemberlakuan bebas pajak bagi mobil-mobil tua (di Inggris: mobil yang dibuat sebelum tanggal 1 Januari 1973) dan pemberlakuan standar uji emisi yang berlaku pada tahun mobil tersebut di produksi (contoh: mobil yang diproduksi sebelum pemberlakuan standar EURO2 tidak boleh di uji dengan standar tersebut).

Ketidakjelasan peraturan tersebut tampaknya memang disengaja oleh pemerintah, karena tampaknya memang mereka semua bodoh dalam membuat peraturan sejenis kontrak. Mengapa tidak mengundang mereka yang sudah biasa mengurusi pembuatan kontrak (para notaris dan ahli hukum) sehingga menghasilkan peraturan yang tepat dan jelas. Atau memang dalam peraturan yang tidak jelas tersebut, lebih banyak kesempatan untuk “bermain”?

Kemacetan yang terjadi di Jakarta tidaklah semata-mata disebabkan oleh banyaknya mobil yang beredar, namun perhatikan juga jumlah MOTOR yang beredar, efektifitas transportasi umum, panjang ruas jalan dan bekerjanya marka jalan. Tidak disiplinnya pengguna jalan, terutama motor, jalur dan jumlah bus yang tidak mendukung, ruas jalan yang relatif tidak bertambah, tidak tersedianya marka, atau lampu lalu-lintas yang sering tidak bekerja, justru hal tersebut yang berlaku di Jakarta, dan menjadi penyumbang kemacetan terbesar. Jadi, jangan hanya menyalahkan mobil. Salahkan juga motor, Departemen PU, dan koruptor yang memakan alokasi dana perawatan jalan!

Tertibkan juga trayek kendaraan umum dan jumlahnya yang beredar di jalan raya. Sering terjadi, jumlah Mikrolet terlalu banyak sehingga menimbulkan penumpukan mobil, dan jumlah bus terlalu sedikit sehingga penumpang tidak terangkut. Metromini, bus, Mikrolet, Bajaj seringkali tidak disiplin (maaf, tolong baca: selalu tidak disiplin) di jalan sehingga menimbulkan gangguan bagi arus lalu lintas.

Intinya, yang pertama kali harus diterapkan ialah perubahan mendasar bagi sistem transportasi di Jakarta secara menyeluruh. Jangan ambil gampangnya melarang mobil beredar di jalan. Hal tersebut hanya akan menutup masalah di permukaan tanpa menyentuh akar. Saya pesimis hal tersebut dapat terjadi, karena terlalu banyak kepentingan yang menyangkut motif ekonomi yang bermain di masalah transportasi ini. Baik di level atas, maupun di petugas lapangan. Jujur saja, saya harap para petugas/pejabat yang berurusan dengan masalah ini bisa membaca tulisan saya, walaupun kita sama-sama tahu, bila berurusan dengan pejabat pemerintah sama saja dengan “masuk kuping kanan, keluar kuping kiri”.

Selamat Ulang Tahun!


Medio 2006-2007 merupakan tahun yang sangat menarik bagi Jakarta Morris Club. Entah karena sebab apa, klub Mini satu-satunya di Jakarta ini makin bertambah popularitasnya. Hal ini dapat dilihat dari semakin seringnya JMC muncul di layar televisi (meskipun dalam jam tayang malam sekali atau pagi-pagi), wawancara para anggotanya di televisi dan radio, dan juga acara-acara yang diselenggarakan JMC sendiri.

Milis JMC dan grup Internet JMC di Yahoogroups juga makin semarak dengan bertambahnya anggota-anggota baru dari berbagai kota seperti Medan, Bali malah hingga luar negeri di Malaysia. Demografi para anggotanya pun perlahan-lahan mulai bergeser, dari usia rata-rata 40 tahunan, menjadi 35-tahunan (kira-kira). Kini, banyak anggota-anggota JMC yang berusia muda (dan anggota-anggota senior yang berjiwa muda) dan membawa angin segar serta pemikiran baru ke dalam kehidupan klub dan juga kepemilikan Mini. Kesuksesan acara Jakarta Morris Show 2007 juga membawa perhatian masyarakat umum terhadap mobil Mini. Banyak orang yang mempertanyakan dan menginginkan mobil Mr. Bean ini, namun terhalang kendala ketersediaan barang.

Jumlah mobil yang terbatas ini membuat nilai jual Mini di Indonesia melambung tinggi. Para peminat sering kali "mundur teratur" begitu mendengar harga rata-rata Morris Mini 1000 tahun 70-an yang berkisar antara 30-40 juta rupiah, dan sekitar Rp. 10 juta lagi untuk membereskan mobil. Atau malah harga mobil-mobil eks Jepang yang kini berkisar antara Rp. 80-100 jutaan. Mereka biasanya shock karena membandingkan harga dengan VW yang ada diantara harga 20-jutaan On The Road dan mulus.

Akan tetapi, ketertarikan pada mobil mungil ini (tampaknya) justru mencapai puncaknya dalam tahun 2007 ini. Tercatat, sedikitnya 3 kali penampilan di layar televisi, 3 kali tercetak dalam koran atau majalah, dan bertambahnya wajah-wajah baru dalam kumpul-kumpul bulanan. Selain itu, anggota milis JMC bertambah pula dengan pesat, kebanyakan dengan pertanyaan "apakah bisa bergabung bila tidak punya mobilnya?". Jawaban dari pertanyaan tersebut, anehnya, adalah: Ya. Para peminat bisa saja bergabung meskipun tidak memiliki mobil.

Pada usianya yang ke-14, JMC kini telah membuka jalan bagi terbentuknya klub-klub pemilik Mini, seperti Bandung Mini Owners Club (BMOC) yang usianya sedikit lebih muda, ide serius untuk membentuk klub di Bali, Medan dan Surabaya. Bukan tidak mungkin, di masa yang akan datang, JMC dapat bekerja sama dengan klub-klub Mini di kawasan ASEAN untuk membentuk semacam acara tahunan / silaturahmi pemilik Mini di negara-negara ASEAN tersebut.

Tanggal 29 Agustus merupakan hari kelahiran Jakarta Morris Club. Selamat Ulang Tahun JMC, akan tetapi, perlu perhatian serius dari para anggotanya agar pamor JMC yang sedang tinggi-tingginya pada tahun ini tidaklah menurun dan mengendurkan minat kepada kepemilikan mobil klasik di Indonesia.

Tuesday, August 28, 2007

Tentang Mini dan JMC



Krisis Suez yang terjadi pada akhir tahun 1950-an memaksa pemberlakuan penjatahan BBM bagi negara-negara Eropa, termasuk Inggris Raya. Untuk mengatasi hal ini, grup British Motor Corporation (BMC) – yang merupakan hasil merger perusahaan otomotif Austin dan Morris – merencanakan pembuatan mobil kecil, ringkas, hemat BBM tapi juga lapang.

Maka, pimpinan BMC, Leonard Lord, menugaskan seseorang untuk merancang mobil tersebut. Alec Issigonis, yang sudah lebih dahulu sukses dengan rancangan Morris Minor-nya merupakan orang yang dipercaya untuk menjalankan tugas itu. Penugasannya dimulai pada bulan Maret 1957, dan dua tahun kemudian, mobil yang diinginkan tersebut sudah siap untuk diproduksi. Akhirnya, pada bulan Agustus 1959, mobil kecil tersebut diluncurkan ke pasar otomotif, dan dunia pun berubah…

Austin Mini Se7en dan Morris Mini-Minor merupakan nama awal dari mobil tersebut. Setelah tahun 1969, nama pabrikan Austin dan Morris tidak digunakan lagi, sehingga nama resminya adalah Mini. Namun, untuk pasar internasioanal, merek Austin atau Morris tersebut masih dipergunakan.

Selain model sedan, terdapat pula varian-varian dari mobil dengan panjang 3 meter tersebut, antara lain: Mini Van, Mini Pick-up, Mini Moke (yang berbentuk mirip jeep) dan Mini Clubman (dengan bentuk hidung yang kotak). Tapi yang paling terkenal mungkin adalah Mini Cooper (mobil langganan pemenang Rally Monte Carlo).

Mini mengubah paradigma perancangan mobil kecil di seluruh dunia. Tata mesin melintang dengan penggerak roda depan hingga saat itu belum pernah dipakai pabrikan mobil manapun. Posisi ke-empat rodanya memungkinkan pengendaraan yang sangat lincah dan gampang dikendalikan. Tidak heran, mobil ini mampu memenangkan Rally Monte Carlo tahun 1964, 1965 dan 1967, dan selalu masuk tiga teratas dari tahun 1964 sampai 1968. Dapat dikatakan, apabila melihat mobil sedan mini atau city car masa kini dengan mesin melintang dan berpenggerak roda depan, maka hal tersebut merupakan pengaruh dari Mini.

Setelah berproduksi selama 42 tahun, Mini akhirnya menghentikan pembuatannya pada tahun 2001, digantikan dengan New MINI hasil desain tim BMW (yang menguasai saham Rover). Jumlah total produksi Mini adalah sekitar 5,5 juta mobil, menjadikannya Mobil Inggris Terlaris Sepanjang Sejarah. Pada tahun 2001, majalah Autocar menganugerahinya dengan predikat Mobil Paling Berpengaruh Abad 20, mengalahkan Ford T dan VW Beetle.

Seiring berjalannya waktu, Mini pun mengalami perbaikan-perbaikan desain. Jendela geser digantikan dengan jendela wind-up. Mesin 850cc digantikan dengan 1000cc, yang kemudian diganti lagi dengan mesin 1275cc. Karburator digantikan dengan Injection. Standarisasi disc-brake. Hebatnya, bentuk dasar Mini nyaris tidak berubah. Jika dibandingkan antara Mini keluaran tahun 1959 dengan Mini keluaran tahun 2000, hampir tidak ada perubahan mencolok.
Di Indonesia, Mini (yang lebih dikenal hanya sebagai “Morris”) mulai menggaung namanya pada pertengahan dekade 70-an. Importir PT Java Motors memasukkan Mini dengan tipe CKD (dalam bentuk kit, langsung dari Inggris) dan dirakit oleh PT National Assemblers yang berpusat di Medan sejak pertengahan 70-an tadi hingga 1979 meskipun terdapat pula Mini tahun 60-an (atau bahkan lebih dahulu lagi) yang masuk ke Indonesia melalui importir individu, dan biasanya dalam keadaan CBU. Tidak diketahui jumlah pasti mobil impor maupun mobil-mobil CKD tersebut, namun diduga jumlahnya kurang dari atau sekitar 1000 unit, tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dengan konsentrasi terbesar di Jakarta.

Pada bulan Agustus tahun 1993, didirikanlah Jakarta Morris Club yang bertujuan untuk melestarikan keberadaan mobil-mobil tersebut. Pemilihan nama Morris dan bukan Mini merupakan kesengajaan agar bukan hanya pemilik Mini yang dapat bergabung, tapi juga pemilik mobil dari merk Morris seperti Morris Minor atau Morris 1100/1300.

Terbatasnya jumlah mobil, suku cadang yang agak susah didapat, kekhawatiran mogok di jalan; kesemuanya ternyata tidak mampu meyurutkan semangat anggota JMC dalam berkumpul dan bersilaturahmi bersama-sama. Perjalanan jauh ke luar kota sudah sering dilaksanakan, seperti ke Lampung, Anyer, Garut dan Jatiluhur.

Dalam sejarahnya, Mini telah berganti-ganti nama pabrikan: Austin, Morris, Leyland, British Leyland, Austin-Rover,Rrover, MG-Rover. Namun, satu hal yang tidak tergantikan ialah faktor klasik desain Mini, yang hebatnya sampai saat ini (hampir 50 tahun kemudian), masih segar dipandang mata.

© 2007 Aria Aradhea
Source: “Mini: Thirty-five years on” by Rob Golding; “Essential Mini Cooper” by Anders Ditlev Clausager

Welcome to MINIfied!

Welcome to MINIfied, the Indonesian Mini-enthusiasts blogspot... Here you'll find infos about the Indonesian Mini scene and activities, along with some of my essays about Minis (what else!). So, enjoy and stick around!