Medio 2006-2007 merupakan tahun yang sangat menarik bagi Jakarta Morris Club. Entah karena sebab apa, klub Mini satu-satunya di Jakarta ini makin bertambah popularitasnya. Hal ini dapat dilihat dari semakin seringnya JMC muncul di layar televisi (meskipun dalam jam tayang malam sekali atau pagi-pagi), wawancara para anggotanya di televisi dan radio, dan juga acara-acara yang diselenggarakan JMC sendiri.
Milis JMC dan grup Internet JMC di Yahoogroups juga makin semarak dengan bertambahnya anggota-anggota baru dari berbagai kota seperti Medan, Bali malah hingga luar negeri di Malaysia. Demografi para anggotanya pun perlahan-lahan mulai bergeser, dari usia rata-rata 40 tahunan, menjadi 35-tahunan (kira-kira). Kini, banyak anggota-anggota JMC yang berusia muda (dan anggota-anggota senior yang berjiwa muda) dan membawa angin segar serta pemikiran baru ke dalam kehidupan klub dan juga kepemilikan Mini. Kesuksesan acara Jakarta Morris Show 2007 juga membawa perhatian masyarakat umum terhadap mobil Mini. Banyak orang yang mempertanyakan dan menginginkan mobil Mr. Bean ini, namun terhalang kendala ketersediaan barang.

Jumlah mobil yang terbatas ini membuat nilai jual Mini di Indonesia melambung tinggi. Para peminat sering kali "mundur teratur" begitu mendengar harga rata-rata Morris Mini 1000 tahun 70-an yang berkisar antara 30-40 juta rupiah, dan sekitar Rp. 10 juta lagi untuk membereskan mobil. Atau malah harga mobil-mobil eks Jepang yang kini berkisar antara Rp. 80-100 jutaan. Mereka biasanya shock karena membandingkan harga dengan VW yang ada diantara harga 20-jutaan On The Road dan mulus.
Akan tetapi, ketertarikan pada mobil mungil ini (tampaknya) justru mencapai puncaknya dalam tahun 2007 ini. Tercatat, sedikitnya 3 kali penampilan di layar televisi, 3 kali tercetak dalam koran atau majalah, dan bertambahnya wajah-wajah baru dalam kumpul-kumpul bulanan. Selain itu, anggota milis JMC bertambah pula dengan pesat, kebanyakan dengan pertanyaan "apakah bisa bergabung bila tidak punya mobilnya?". Jawaban dari pertanyaan tersebut, anehnya, adalah: Ya. Para peminat bisa saja bergabung meskipun tidak memiliki mobil.
Pada usianya yang ke-14, JMC kini telah membuka jalan bagi terbentuknya klub-klub pemilik Mini, seperti Bandung Mini Owners Club (BMOC) yang usianya sedikit lebih muda, ide serius untuk membentuk klub di Bali, Medan dan Surabaya. Bukan tidak mungkin, di masa yang akan datang, JMC dapat bekerja sama dengan klub-klub Mini di kawasan ASEAN untuk membentuk semacam acara tahunan / silaturahmi pemilik Mini di negara-negara ASEAN tersebut.
Tanggal 29 Agustus merupakan hari kelahiran Jakarta Morris Club. Selamat Ulang Tahun JMC, akan tetapi, perlu perhatian serius dari para anggotanya agar pamor JMC yang sedang tinggi-tingginya pada tahun ini tidaklah menurun dan mengendurkan minat kepada kepemilikan mobil klasik di Indonesia.
Milis JMC dan grup Internet JMC di Yahoogroups juga makin semarak dengan bertambahnya anggota-anggota baru dari berbagai kota seperti Medan, Bali malah hingga luar negeri di Malaysia. Demografi para anggotanya pun perlahan-lahan mulai bergeser, dari usia rata-rata 40 tahunan, menjadi 35-tahunan (kira-kira). Kini, banyak anggota-anggota JMC yang berusia muda (dan anggota-anggota senior yang berjiwa muda) dan membawa angin segar serta pemikiran baru ke dalam kehidupan klub dan juga kepemilikan Mini. Kesuksesan acara Jakarta Morris Show 2007 juga membawa perhatian masyarakat umum terhadap mobil Mini. Banyak orang yang mempertanyakan dan menginginkan mobil Mr. Bean ini, namun terhalang kendala ketersediaan barang.
Jumlah mobil yang terbatas ini membuat nilai jual Mini di Indonesia melambung tinggi. Para peminat sering kali "mundur teratur" begitu mendengar harga rata-rata Morris Mini 1000 tahun 70-an yang berkisar antara 30-40 juta rupiah, dan sekitar Rp. 10 juta lagi untuk membereskan mobil. Atau malah harga mobil-mobil eks Jepang yang kini berkisar antara Rp. 80-100 jutaan. Mereka biasanya shock karena membandingkan harga dengan VW yang ada diantara harga 20-jutaan On The Road dan mulus.
Akan tetapi, ketertarikan pada mobil mungil ini (tampaknya) justru mencapai puncaknya dalam tahun 2007 ini. Tercatat, sedikitnya 3 kali penampilan di layar televisi, 3 kali tercetak dalam koran atau majalah, dan bertambahnya wajah-wajah baru dalam kumpul-kumpul bulanan. Selain itu, anggota milis JMC bertambah pula dengan pesat, kebanyakan dengan pertanyaan "apakah bisa bergabung bila tidak punya mobilnya?". Jawaban dari pertanyaan tersebut, anehnya, adalah: Ya. Para peminat bisa saja bergabung meskipun tidak memiliki mobil.
Pada usianya yang ke-14, JMC kini telah membuka jalan bagi terbentuknya klub-klub pemilik Mini, seperti Bandung Mini Owners Club (BMOC) yang usianya sedikit lebih muda, ide serius untuk membentuk klub di Bali, Medan dan Surabaya. Bukan tidak mungkin, di masa yang akan datang, JMC dapat bekerja sama dengan klub-klub Mini di kawasan ASEAN untuk membentuk semacam acara tahunan / silaturahmi pemilik Mini di negara-negara ASEAN tersebut.
Tanggal 29 Agustus merupakan hari kelahiran Jakarta Morris Club. Selamat Ulang Tahun JMC, akan tetapi, perlu perhatian serius dari para anggotanya agar pamor JMC yang sedang tinggi-tingginya pada tahun ini tidaklah menurun dan mengendurkan minat kepada kepemilikan mobil klasik di Indonesia.

0 comments:
Post a Comment